Kita manusia sungguh begitu dirahmati oleh Allah, sekalipun mungkin kita terkadang menjauh dari-Nya. Dalam tarikan dan hembusan napas, tubuh yang sehat, makanan yang tak pernah berhenti dinikmati, adalah setumpuk nikmat yang jarang di antara kita yang begitu tulus dalam mensyukurinya. Ketika nikmat itu datang mengisi hari-hari, kita terkadang lupa kalau semuanya adalah karunia tak berhingga yang Allah curahkan untuk membahagiakan kita. Tapi entah kenapa, kita selalu lupa kalau itu datangnya dari Allah. Bahkan wal'iyyadzu billah-tak sedikit yang berlagak pongah dengan nikmat berlimpah itu.
Harta yang berlimpah, hanya berapa diantara kita yang betul-betul sadar kalau
I'lam rahimaniyallah wa iyyakum...
Cinta itu, yang sedianya hanya pantas buat Allah, kenapa ia mesti dibagi untuk seseorang yang tak menjamin bahagia sedikit pun di dunia, terlebih di akhirat. Ataukah hati lebih senang Allah marah melihat hari-hari kita yang selalu terkotori oleh maksiat.Ataukah kita perlu diingatkan kembali tentang adzab yang akan ditimpakan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ataukah ketakutan itu telah hilang ketika Rasulullah memberitahukan bahwa sisaan yang paling ringan di neraka kelak adalah ketika bara api diletakkan di kedua tumit seseorang, lalu kemudian yang mendidih adalah otaknya.
I'lam rahimaniyallah wa iyyakum...
Mata dan hati, kadang terkelabui oleh silaunya dunia, sehingga kenikmatan sesungguhnya di akhirat kelak sering terhalangi. Dunia menipu manusia dengan menjanjikan fantasi yang melenakan, seolah ia negeri abadi yang takkan pernah mati. Dunia "menyihir" mata agar ia tamapak mempesona di hadapan manusia, sehingga lupa kalau sang hamba dalam hidup yang bercita; menyembah hanya pada Allah Maha Pencipta. Dunia mempermainkan manusia dalam kesia-siaan, sehingga lupa kalau di surga, kerinduan sang kekasih tak pernah pudar, walau mesti berabad menanti.
I'lam rahimaniyallah wa iyyakum...
Bidadari. Sang kekasih dalam wajahnya yang anggun nan jelita. Ia bukan milik lelaki yang pandai mengumbar nafsu. Ia bukan milik lelaki yang senang mencicipi tubuh wanita yang tak punya harga. Ia bukan milik lelaki yang tak pernah rindu bertemu sang kekasih.
Ia hanya milik lelaki yang selalu memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan dirinya. Ia hanya milik yang merindukan bidadari.
Bidadariku....Semoga kau setia menantiku.
Selanjutnya......


